Gratis Ongkir PEKANBARU ~ Admin : 08117697700 ~ Cash On Delivery Available

Selamatkan dunia perlebahan Indonesia

Oleh: Avry Pribadi

Peneliti perlebahan pada Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Lebah telah lama digunakan untuk pemenuhan akan produk berupa madu dan sebagai pollinator. Akan tetapi, pemanfaatan dan eksploitasi terhadap jenis lebah tertentu terkadang menimbulkan beberapa permasalahan baru. Jenis lebah yang paling banyak dimanfaatkan adalah Apis mellifera atau masyarakat sering menyebutnya sebagai lebah eropa atau Australia. Menurut beberapa teori evolusi, lebah Apis mellifera sebenarnya berasal dari Afrika tengah yang kemudian menyebar dan beradaptasi dengan baik di wilayah Eropa. Jenis ini kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Amerika dan Australia sewaktu periode kolonialisisasi terjadi dan sejak itu telah banyak usaha pemulian untuk mencari bibit unggul juga dimulai sehingga jenis ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh para peternak lebah di dunia. Akan tetapi, dibalik kesuksesan menjadi jenis yang paling popular di dunia, lebah Apis mellifera sebenarnya menyimpan masalah besar, yaitu menjadi invasive species bagi jenis-jenis lebah lokal.

 

Sebuah penelitian yang disajikan dalam jurnal Scientific reports tahun 2019 menyebutkan bahwa keberadaan Apis mellifera memberikan dampak buruk bagi keberadaan beberapa jenis lebah lokal dan interaksi antara tanaman dan lebah lokal yang telah lama terbentuk. Populasi lebah lokal akan semakin terdesak dan menurunkan tingkat keberhasilan penyerbukan pada tanaman lokal. Sedangkan pada sebuah studi di Jurnal Ecoscience tahun 2005 bahkan menyarankan untuk tidak mengintroduksikan jenis Apis mellifera ke suatu wilayah yang telah dihuni oleh kelompok lebah lokal. Suatu studi di Timur Tengah yang diterbitkan oleh jurnal Plant Sciences tahun 2013 menyebutkan bahwa keberadaan Apis mellifera mempengaruhi kemampuan lebah lokal untuk berkompetisi dalam mengumpulkan pakan.

 

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri, jenis Apis mellifera masuk kira-kira tahun 1841 yang dibawa oleh orang Belanda. Namun setelah era kemerdekaan, jenis ini kembali didatangkan pertama kali pada tahun 1972 oleh Apriari Pramuka. Kemudian, dalam kisaran tahun 1974 s.d 1985 terjadi import Apis mellifera asal Australia secara besar-besaran terutama oleh para peternak besar di pulau Jawa. Keberadaan jenis lebah Apis mellifera ke Indonesia dapat dinilai sebagai hal yang positif namun juga dapat berdampak negatif. Tujuan didatangkan jenis Apis mellifera adalah untuk meningkatkan produksi madu di Indonesia yang masih rendah meskipun Indonesia memiliki potensi pakan yang melimpah. Apis mellifera dipilih karena lebah ini memiliki produktivitas madu yang tinggi dan tidak agresif sehingga mudah untuk diternakkan. Hal inilah yang menyebabkan kebijakan import Apis mellifera menimbulkan pro dan kontra di masa itu. Bagi pihak-pihak yang tidak setuju beralasan bahwa seharusnya Indonesia justru mengembangkan potensi lebah lokal yang telah ada.

 

Indonesia sebenarnya menjadi surga bagi berbagai jenis lebah baik yang bersengat maupun yang tidak bersengat. Penelitian yang dilakukan oleh Engel tahun 2012 yang diterbitkan pada majalah ilmiah berjudul Treubia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki enam jenis lebah lokal bersengat (Apis), diantaranya Apis dorsata, Apis nigrocincta, Apis cerana, Apis koschevnikovi, Apis andreniformis, dan A. florea. Jumlah ini belum termasuk lebah tidak bersengat yang diyakini jumlahnya mencapai puluhan jenis. Akan tetapi, dari sekian banyak spesies lebah, hanya dua jenis lokal yang sampai sekarang hanya mampu dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu Apis dorsata yang lebih dikenal sebagai lebah hutan dan Apis cerana.

 

Gambar 1. Sisiran Apis cerana

 

Sampai saat ini belum ada studi tentang pengaruh keberadaan lebah Apis mellifera terhadap keberadaan lebah-lebah lokal di Indonesia. Namun, beberapa penelitian di atas telah banyak menyebutkan bahwa keberadaan Apis mellifera memiliki dampak yang negative bagi populasi lebah lokal. Sebuah studi yang dilaporkan pada majalah ilmiah Bee world tahun 2017 menyebutkan bahwa populasi lebah lokal jenis Apis cerana di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan India yang salah satunya disebabkan oleh keberadaan Apis mellifera. Selain berkompetisi dalam hal makanan dan perpindahan hama dan penyakit, pejantan Apis mellifera juga memiliki kecenderungan untuk menggagalkan proses perkawinan calon ratu Apis cerana sehingga sering terjadi kegagalan perkawinan. Di samping itu, Apis mellifera lebih agresif dibanding Apis cerana dalam ham mengumpulkan makanan.

 

 

Meskipun Apis mellifera memiliki potensi besar untuk menjadi invasive, hanya Apis mellifera sub species scutellata yang telah dikategorikan sebagai jenis lebah yang bersifat invasive oleh Global Invasive Species Database. Apis mellifera sub species scutellata sering disebut Africanized honeybees yang berhabitat asli di Afrika Tengah. Permasalahan utamanya adalah, pejantan dari jenis ini apabila kawin dengan calon ratu yang berasal dari jenis lebah Apis mellifera yang biasa diternakkan, maka akan menghasilkan keturunan yang memiliki karakter seperti Africanized honeybees dan meninmbulkan kerugian bagi peternak. Akan tetapi, sampai saat ini memang belum ada laporan yang menyatakan bahwa jenis Africanized honeybees telah masuk ke Indonesia. Bukan tidak mungkin hal tersebut dapat terjadi jika kita lengah dalam memilih jenis Apis mellifera yang diimport dari negara luar.

Gambar 2. Sisiran Apis mellifera

Ancaman selanjutnya justru datang dari dalam negeri sendiri. Indonesia yang dibagi oleh garis khayal Weber dan Wallacea berdasarkan perbedaan flora dan faunanya. Perpindahan flora dan fauna melewati garis ini sebenarnya dapat menyimpan suatu potensi permasalahan dikemudian hari. Interaksi antara flora dan fauna yang masing-masing berada di dalam garis Weber atau Wallacea telah secara evolusi terjalin sangat lama dan memiliki karakteristik yang unik. Sehingga apabila terjadi perpindahan secara sengaja dan tidak sengaja terhadap kekayaan flora dan fauna melewati garis Weber dan Wallacea tersebut dikhawatirkan keseimbangan yang telah tercapai akan terganggu. Sebagai contoh adalah sejak popularitas lebah tidak bersengat jenis Tetragonula biroi yang merupakan jenis endemic pulau Sulawesi meningkat, banyak koloni lebah tersebut dikirim ke pulau Jawa dan Sumatra. Begitu juga dengan jenis Heterotrigona itama yang endemic di pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang dikirim ke Sulawesi. Mungkin efek jangka pendeknya belum dirasakan oleh masyarakat, akan tetapi ditakutkan akan berpengaruh di masa depan.

 

Oleh sebab itu, keragaman dunia lebah yang dimiliki oleh Indonesia harus mampu dilindungi. Keberadaan lebah Apis mellifera yang didatangkan untuk memenuhi kebutuhan madu nasional harus dilakukan dengan pengawasan agar tidak mendesak keragaman jenis lebah lokal. Permasalahan berupa rendahnya produktivitas lebah lokal seperti Apis cerana yang sering menjadi alasan para peternak besar sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan kegiatan penelitian untuk menemukan jenis lebah lokal yang memiliki sifat unggul. Bukankan dulu lebah Apis mellifera juga dilakukan penelitian untuk dapat sampai ditemukan jenis yang unggul pada hari ini? Sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan. Selain itu, perlu juga dilakukan penelitian mengenai perpindahan melalui aktivitas jual beli diantara garis Wallace dan Weber.

 

*artikel ini juga dimuat di Turkish Propolis Nano

 

Leave a Reply